Oleh: Rahadian Amrullah, Eko Pujiyono (Prodi Akuntansi UNPAM Serang)

Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kerap disebut sebagai tulang punggung ekonomi daerah. Namun, di balik narasi besar tersebut, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak pelaku usaha lokal yang masih terjebak dalam siklus pertumbuhan yang stagnan. Salah satu contoh nyata dapat kita lihat pada UMKM Pengrajin Tas Hadi Hidayat yang terletak di Desa Kadugenep, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang. Kendati memiliki potensi pasar yang besar dan kualitas produk yang bersaing, hambatan klasik akuntansi keuangan dan manajemen logistik masih menjadi batu sandungan utama mereka untuk naik kelas.
Dalam bisnis kerajinan tangan seperti pembuatan tas, tantangan terbesar sebenarnya bukan lagi sekadar mencari pembeli, melainkan bagaimana mengelola dapur produksi yang tersebar secara efisien. UMKM ini memiliki karakteristik operasional yang unik: memiliki 7 unit mesin jahit di workshop utama, sekaligus mengandalkan para pekerja yang bekerja dari rumah masing-masing dengan target setoran yang harus diselesaikan. Dengan pola kerja terdesentralisasi seperti ini, tantangan manajemen menjadi berlipat ganda. Di sinilah dua masalah kronis yang saling berkelindan kerap muncul, yaitu ketiadaan perencanaan anggaran belanja yang terukur serta lemahnya sistem audit stok barang.
Banyak pelaku UMKM masih mengandalkan pencatatan berbasis ingatan atau sekadar mencatat uang masuk dan keluar di buku saku. Akibatnya, pengeluaran untuk bahan baku sering kali membengkak tanpa rencana, memicu kebocoran arus kas (cash flow). Masalah ini diperparah oleh manajemen gudang yang konvensional. Tanpa adanya audit atau kontrol stok barang yang rutin, perajin sering kali mengalami situasi ironis: kekurangan komponen penting seperti ritsleting, benang, atau aksesori tas tepat saat pekerja rumahan hendak mengambil bahan baku, atau sebaliknya, terjadi penumpukan bahan kain yang modalnya mengendap sia-sia di pojok gudang karena luput dari pengawasan.
Berangkat dari urgensi tersebut, Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Serang hadir melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM). Diikuti oleh 15 orang peserta yang terdiri dari karyawan UMKM serta warga sekitar Desa Kadugenep, edukasi ini dirancang sebagai jembatan ilmu untuk meretas sekat-sekat manajerial tersebut. Formulasi perencanaan anggaran belanja bukan bertujuan untuk merumitkan birokrasi internal UMKM, melainkan untuk memberikan kompas bagi pemilik usaha dalam memprediksi biaya produksi secara akurat, menentukan harga jual yang rasional, dan mengunci target keuntungan.
Di sisi lain, penerapan sistem audit stok barang sederhana—bahkan sesederhana menggunakan kartu stok fisik atau aplikasi logistik berbasis ponsel pintar—menjadi kunci efisiensi vital. Dengan mengetahui jumlah pasokan secara real-time, pengelola UMKM dapat dengan tepat mendistribusikan bahan baku kepada pekerja yang bekerja di rumah sesuai target mereka. Langkah ini efektif menekan pemborosan modal kerja dan memastikan setiap pesanan konsumen dapat diselesaikan tepat waktu tanpa drama hambatan logistik internal.
Upaya memajukan UMKM di Kabupaten Serang tidak bisa hanya mengandalkan bantuan modal stimulan. Suntikan dana sebesar apa pun akan menguap sia-sia jika tidak dibarengi dengan pembenahan literasi keuangan dan manajerial dari akarnya. Melalui sinergi akademisi, karyawan, dan warga sekitar dalam kegiatan PKM ini, diharapkan muncul kesadaran baru. Ketika perajin tas lokal di Desa Kadugenep sudah mampu merencanakan anggarannya dengan cermat dan mengaudit stoknya dengan ketat, maka jalan menuju modernisasi usaha bukan lagi sekadar angan-angan, melainkan sebuah kepastian menuju UMKM yang mandiri dan berdaya saing tinggi.


